Asal Mula Nama ARA
Menurut beberapa sumber, sebelum bernama Ara perkampungan tua tersebut bernama Bontobiraeng, bahkan sampai sekarang nama Bontobiraeng masih tercatat dalam Budaya Nusantara Kemendagri sebagai salah satu dari empat kerajaan lokal/palili' yang masih eksis di Kabupaten Bulukumba yaitu Kerajaan Bontobiraeng (Ara) (Tribun Timur 26 Maret 2016).
Konon disebut Bontobiraeng sebab kampung tersebut merupakan perbukitan yang banyak ditumbuhi pohon Biraeng. Tidak diketahui dengan pasti kapan nama Bontobiraeng berubah menjadi Ara. Mengenai perubahan tersebut ada beberapa versi, salah satu diantaranya menurut cerita mengatakan bahwa kata Ara muncul ketika terjadi konflik antara Tiro dan Bira. Konon ketika perselisihan tersebut memuncak orang Ara berinisiatif menjadi penengah dengan mengatakan "Araki....araki sisalai” yang artinya jangan berselisih paham. Kata ”Araki” itulah yang diulang-ulang orang Bontobiraeng yang akhirnya menjadi nama kampung Ara. Versi lain menyebutkan bahwa dinamai Ara sebab pada perkampungan tersebut banyak tumbuh pohon "Kayu Ara" (pohon beringin). Selain kedua versi tersebut ada pula pendapat yang mengatakan penamaan Ara muncul, ketika utusan menghadap ”Sombayya” (Raja Gowa) agar menunjuk/melantik Raja/Karaeng yang baru di Bontobiraeng untuk menggantikan Karaeng Bontobiraeng yang wafat. Menurut sumber tersebut raja Gowa menolak menunjuk Karaeng baru dengan mengatakan ”Arami rolo” ? (teami rolo-makassar) yang artinya jangan dulu. Konon jawaban Raja Gowa itulah yang diulang-ulang oleh orang Bontobiraeng dengan mengatakan ...arami.…arami bede rolo. Selanjutnya pengulangan kata itulah diabadikan menjadi nama kampung tersebut menjadi Ara, menggantikan nama Bontobiraeng. Untuk memastikan versi mana yang benar tentu diperlukan kajian/penelitian yang lebih mendalam.
Tidak diketahui dengan pasti kapan kampung Ara yang luasnya sekitar 30 km2 itu dihuni manusia, namun dari beberapa temuan membuktikan bahwa Ara sejak berabad-abad lalu telah dihuni manusia. Sebagai perkampungan tua, sangat logis sejak dahulu penduduknya telah memiliki peradaban tinggi. Hal ini dapat dikatakan demikian berdasarkan bukti yaitu temuan para peneliti. Menurut Muhannis (Perahu pinisi Karya Budaya Ara diantara bangkit dan dilupakan (Seminar, Ara 23 Agustus 2012). Pada zaman penjajahan seorang peneliti Belanda menemukan perhiasan manikmanik kaca di Gua Passea, yang mirip dengan manik-manik kornelian Bantaeng. Temuan tersebut diperkirakan telah digunakan leluhur orang Ara sejak berabad-abad lalu. Selain itu juga ditemukan serpihan Maros point di Gua Sobbolang oleh Prof. David Bulbeck dari Australian Nasional University.
Penduduk Ara menggunakan bahasa Konjo pesisir, seperti halnya bahasa yang umum dipakai penduduk bagian timur Kabupaten Bulukumba. Menurut para ahli bahasa Konjo merupakan sub bahasa Makassar. Berdasarkan hal tersebut dan bukti-bukti lain, kuat dugaan adanya hubungan erat antara Ara dan Gowa pada masa lalu.
Sumber: Buku Ragam Budaya Ara - Sejarah, Tradisi, dan Profesi. Oleh Muhammad Arief Saenong.


No comments