Sekilas Tentang Ara

Share:

 SEKILAS TENTANG ARA 


Pada zaman dahulu Ara merupakan sebuah perkampungan tua dengan status sebagai Adat Gemenschoap/Wanua/Distrik dalam wilayah Onder Afdeeling Bulukumba. Kini Ara secara administratif telah dimekarkan menjadi dua desa yaitu Desa Ara dan Desa Lembanna dan berada dalam wilayah Kecamatan Bontobahari Kabupaten Bulukumba. Kecamatan Bontobahari adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Bulukumba yang pada awalnya bernama Kecamatan Tanah Bale, yaitu gabungan dari 4 (empat) distrik yaitu distrik Tanah Beru, Bira, Ara dan Lemo-lemo. Namun atas usulan mahasiswa pada tahun 1967 nama Tanah Bale diubah menjadi Kecamatan Bontobahari. 



Wilayah Ara berbatasan dengan utara Kalumpang, Caramming Timur dengan Teluk Bone selatan dengan Bira, sebelah barat dengan Tanah Beru. Secara Geografis wilayah Ara memiliki Topografi yang berbukit kapur dengan batu telanjang menonjol diatas tanah yang tipis, ditumbuhi padang rumput dan semak belukar. Hanya sedikit wilayahnya yang dapat dijadikan lahan pertanian. Itu sebabnya warga Ara utamanya laki-laki kebanyakan memilih profesi diluar pertanian yaitu sebagai tukang perahu. 

Pemukiman tua Ara dibangun disekitar Erelohe dan Bontona, namun seiring pertumbuhan penduduk diduga sejak lebih seratus tahun .lalu, pemukiman pun semakin berkembang mulai dari Maroanging, Tinadung, Lembanna sampai Pompantu. Bahkan beberapa dekade belakangan ini pemukiman semakin berkembang sampai di Bakung-Bakung, Kaddaro, Manyake dan Kadiengngia. Pemukiman baru di Kadiengngia merupakan pindahan penduduk kampung Tinadung yang kini nyaris tak berpenduduk. 

Sumber air di Ara antara lain Erelohe (air banyak), sumur ini dahulu cukup dalam bagi anak-anak untuk berenang selama musim hujan ketika air sedang meninggi (assakka). Disekitar sumur Erelohe dibangun mesjid pertama Ara yang dahulu disebut ”Masigi Toaya” (masjid tua). Agak ke utara ditengah dusun Bontona terdapat sumur Erekeke (air kecil), dan disekitar sumur tersebut dahulu terdapat pekuburan tua yang disebut ”Pakkuburan Tu Gowayya” (kuburan orang Gowa). Lebih ke utara lagi terdapat sumur Erebalu (sumur janda) yang dahulu dikelilingi pepohonan. Pada masa lalu disumur ini para janda yang berkabung datang mandi sembunyi-sembunyi ditengah malam. Pada dekade tahun 1950-an dekat Erebaiu dibangun masjid besar yang kemudian menjadi Masjid Raya Ara (kini Masjid Nurul Amin). Selanjutnya lebih keutara lagi di pusat dusun Pompantu telah digali sumur dan sebuah masjid dibangun disampingnya. Demikian pula di Maroanging beberapa dekade yang lalu digali sumur, kemudian dibangun pula sebuah masjid didekatnya. Nampaknya memang sebuah keniscayaan pembangunan masjid selalu didekat sumber air untuk memudahkan jamaah mengambil air wudhu. Kecuali masjid yang didirikan dilokasi yang tidak terdapat sumber air seperti Lembanna, Bakung-Bakung dan Kaddaro, untuk kebutuhan air wudhu diupayakan air ledeng yang diambil dari sumber air terdekat, termasuk untuk kebutuhan warga. 

Sumber: Buku Ragam Budaya Ara - Sejarah, Tradisi, dan Profesi. Oleh Muhammad Arief Saenong

No comments