PATTOENGANG
Oleh : Drs. Muhannis
A. Penamaannya
Pattoengang dari sisi bahasa berarti arena berayun yang mencerminkan kegembiraan seluruh masyarakat pendukungnya. Pattoengang sendiri berakar dari kata TOENG yang berarti ayunan yang inti pelaksanaannya adalah berayun-ayun dengan cara tertentu sesuai adat kebiasaan pendukungnya. Permainan ini selalu menjadi hal yang pada masa lalu dinantikan oleh kaum remaja baik perempuan maupun laki-laki dengan berbagai motif keikutsertaannya dalam arena ayun berayun yang bertitel Pattoengang. Pelaksanaannya sendiri kebanyakan dilakukan pada saat musim kemarau tiba kecuali untuk pelaksanaan hajat-hajat tertentu oleh masyarakat.
B. Latar Belakang Sosial dan Budayanya
Pada mulanya, permainan ini adalah sebuah ritual untuk mengenang turunnya manusia pertama dibumi Bugis Makassar yakni Batara Guru yang diturunkan ke bumi menggunakan toeng bulaeng atau ayunan emas. Batara Guru sendiri akhirnya menurunkan generasi penguasa Sulawesi Selatan termasuk Sawerigading seorang tokoh legendaries asal Tanah Luwu dan fenomenal hingga kini. Sawerigading sendiri dengan orang-orang Ara memiliki ikatan emosional sebagai sosok yang pertama kali mengajarkan orang-orang Ara membuat perahu dengan segala bumbu mitos yang mengiringinya. Dengan demikian, ikatan emosional melahirkan keinginan kolektif untuk mengabadikan ikatan ini dalam sebuah tradisi yang dinamakan Pattoengang. Kegiatan ni terus dilanjutkan oleh masyarakat Ara Lembanna sebagai sebuah tradisi yang pada masa perkembangannya bukan lagi sebagai sebuah ritual tetapi sebagai hal yang profan berbentuk kegembiraan seperti saat pesta perkawinan, mendorong perahu, upacara kelahiran, pencarian jodoh dan lain-lain.
Sebagai sebuah permainan kolektif dan melembaga di masyarakat pada jamannya, permainan ini telah menyimpan memori yang sangat dalam akan puncak-puncak keemasannya dengan pelaksanaan yang begitu meriah. Sampai saat ini, memori masyarakat Ara Lembanna mengenang tiga peristiwa penting yang menjadi puncak terbaik dalam pelaksanaannya.Adapun pelaksanaan yang terbaik menurut ingatan orang Ara Lembanna adalah :
- Pelaksanaan di Lembanna yang dilaksanakan bersamaan dengan pertunjukan komedi oleh Residen Belanda pada tahun 1936 yang dipusatkan di batatta luarayya ( sekarang dijadikan Kantor Desa Ara) . Untuk memeriahkan pelaksanaannya serta untuk menghormati Tuan Residen, maka Galarang Ara yang bernama Opu Gama Daeng Samanna memerintahkan penguasa Lembanna atau Anrong Tau Lembanna Puang Basira untuk menggelar Pattoengang. Patoengangangnya berlangsung sukses selama satu bulan penuh dengan bintang patoeng adalah DaengTasa Aba. Yang bertindak sebagai palambero waktu itu adalah Daeng Pugak Demmabbatu dan Daeng Inring.
- Pattoengang di Bontona yang dilaksanakan oleh Keluarga Bungko Atok pada tahun 1946 yang dirangkaikan dengan ritual tradisi unik yang dipimpin oleh Bungko Atok sendiri. Pattoengang yang dilaksanakan oleh Bungko Atok ini adalah sebuah Pattoengang yang dianggap paling lengkap dan paling meriah sepanjang masa karena bertepatan dengan bulan Safar dimana tradisi Pattoengang dipadu dengan tradisi Safar yang juga meriah. Adapun yang menjadi bintang patoeng waktu itu adalah Daeng Bau Maintang. Bertindak sebagai palambero atau penarik tali ayunan adalah Daeng Elle dan Baso Atok.
- Sebuah Pattoengang yang termasuk meriah juga pernah dilaksanakan di Tinadung setahun setelah Pattoengang di Bontona. Pattoengang ini dilaksanakan oleh keluarga Ballo Daeng Mangulisi dengan penarik lambero adalah Daeng Puga Deppa Pallima serta Baji Oddong dengan bintang patoeng Daeng Tasa Demmarempo.
C. Peralatan
Pattoengang yang pada pelaksanaannya adalah dengan menaikkan seorang gadis di tempat permainannya yang lazim disebut dengan empoang atau dudukan. Empoangnya dilengkapi dengan pengaman yang disebut Pangngepek atau penjepit yang digunakan untuk menindih paha pemain. Ayunannya ditempatkan pada pohon kelapa yang tumbuh berdampingan atau balok yang ditanam khusus berdampingan dengan ketinggian minimal 10 meter. Dipuncak tiang diikatkan 2 buah balok atau bamboo dengan posisi horizontal atau membujur searah dengan lebarayunan yang dilengkapi dengan tiang penyanggah tali agar tidak bergeser. Pada bagian bawah empoang terdapat tali atau rotan yang panjanngnya sedikit lebih panjang dari tali induk ayunan yang disebut dengan Lambero. Tali atau rotan yang digunakan harus diikat dan menggantung pada balok yang melintang dengan posisitali bagian atas harus lebih lebar dengan lebar empoang di bagian bawah.
D. Jalannya Permainan
Permaianan ini sebagai permainan yang berdimensi sangat luas yang diikuti oleh berbagai kalangan dan status sehingga ada beberapa syarat yang harus diikuti oleh para patoeng. Patoeng yang statusnya masih gadis datang dan duduk pada sebuah tempat yang khusus disebut barung-barung atau baruga. Tetapi apabila patoeng itu sudah berstatus telah bertunangan maka dia harus dijemput khusus oleh keluarga tunangannya. Penjemputan patoeng berstatus Abbajuang atau Tallik harus dijemput dengan membawakan makanan dan kampu serta payung yang akan dipakai menuju lokasi pattoengang yang disebut dengan nialle kampui. Karena sang tunangan tidak boleh bertemu dengan tunangannya maka dia sering mengambil tempat yang jauh untuk menyaksikan sang tunangan di toeng oleh palambero.Apabila sang tunagan berani menampakkan dirinya dalam keramaian pattoengang dan bertemu dengan sang tunangan maka akibatnya pertunangan akan putus karena dianggap tidak napannaroang sirik . Para patoeng mengenakan baju bodo dan diantar ke dalam empongnya serta dinaikkan dalam dudukan oleh penarik lambero. Lambero pertama kali ditarik oleh palambero yang berada di bagian belakang patoeng sepanjang tali induk lalu melepaskannya yang langsung ditangkap oleh palambero ke dua yang posisinya di bagian depan . Setelah palambero 2 menangkap tali kembali disentak yang selanjutnya ditangkap oleh palambero lain, dan seterusnya. Puncak permainannya adalah apabila seorang patoeng mengeluarkan gerakan yang paling dinanti yang disebut dengan ajjae. Ajjae ini adalah melepaskan pegangannya pada tali toeng kemudian mengambil gerakan tari yang biasanya gerakan annepok ataugerakan karena sisehala pada tari salonreng ynag dakhiri dengan menepuk paha berkali-kali. Keluwesan ajjae dan menepuk paha inilah yang ditunggu-tunggu oleh penonton dan menjadi pembicaraan di tengah masyarakat. Gadis yang belum mempunyai pasangan yang mendapat sambutan semacam ini kadang-kadang mendapat lamaran dari orang tua yang simpati dengan gerakannya.
E. Penutup
Akhirnya kita semua berharap bahwa tradisi ini dimunculkan kembali oleh pemerintah agar menjadi sesuatu yang berharga dan menambah kecintaan kita pada kampong tercinta.Namum sebuah berita menggembirakan bahwa Generasi Muda Desa Lembanna yang didukung oleh Bapak Kepala Desa Lembanna dan tentu saja anggota BPD Desa Lembanna akan mencoba mengangkat dan berjanji akan menjadikan kegiatanini sebagai event tahunan setiap Perayaan Tahun Baru setiap tahunnya. Semoga terlaksana. Aamiin
Pantai Mandala Ria, 24 September 2016
Penulis

No comments